Langsung ke konten utama

Review Novel The Chronicles of Narnia: The Horse and His Boy

Selamat datang di Catatan Sarah!

Semoga kalian semua diberi kesehatan dan keselamatan selama pandemi ini. Seperti di Catatan Sarah sebelumnya, sekarang aku akan membahas The Chronicles of Narnia: The Horse and His Boy. Aku akan langsung membahasnya.

Judul: The Horse and His Boy
Penulis: C.S. Lewis
Genre: Fantasi, keluarga, petualangan
Penerbit: HarperCollins
Tebal halaman: 175
Tahun terbit: 1954
Bahasa: Inggris
Sinopsis: Dalam perjalanan yang putus asa, dua anak (Shasta, Aravis) yang kabur bertemu dan menyatukan kekuatan. Mereka hanya mencoba kabur dari kehidupan mereka yang keras, kemudian mereka menemukan diri mereka di tengah pertarungan yang mengerikan. Pertarungan yang akan menentukan nasib mereka dan nasib Narnia.

“There are far, far better things ahead than any we leave behind.”
-C.S. Lewis

The Horse and His Boy berfokus pada Shasta dan Aravis yang berusaha kabur dari daerah Calormen. Jika di novel sebelumnya Lewis menceritakan negeri Narnia, kali ini Lewis membawa imajinasi anak-anak ke negeri tetangga. Dalam The Horse and His Boy, Lewis menggambarkan Calormen seperti negara di daerah Timur Tengah karena yang membatasi Calormen dengan Archenland dan Narnia adalah padang pasir. 

Aku menyukai keempat tokoh yang ada di novel ini. Empat? Iya, empat. Dua tokoh (Bree, Hwin) yang tak kalah pentingnya adalah dua Kuda yang Berbicara. Dalam The Magician’s Nephew, Aslan membuat binatang berbicara dan memberi kebebasan mereka di Narnia. Binatang yang berbicara tentu saja lebih pintar daripada yang tidak berbicara. Saat aku membaca dialog Bree dan Hwin, aku dapat mengerti bagaimana para kuda berpikir, terlebih tentang orang yang menunggangi mereka. Terdengar aneh, bukan? Aku tidak dapat mengerti bagaimana Lewis dapat membuat Binatang yang Berbicara dengan pikiran mereka. Hal ini tidak pernah kupikirkan sebelumnya.

Berbeda dengan novel-novel sebelumnya, Lewis menceritakan latar suasana yang tidak menyenangkan tetapi mendebarkan. Lewis menuliskan cerita tentang dua anak yang sedang kabur dari kehidupan mereka yang tidak adil. Tentu saja tidak ada yang mengenakkan dari kata ‘kabur’. Keempat tokoh tersebut bersusah payah untuk melalui semua cobaan. Menurutku ini adalah cerita yang menarik karena melibatkan anak-anak ke dalam perjalanan yang bisa dibilang panjang dan melelahkan. Tetapi mereka tetap melanjutkan perjalanan mereka. Keberanian, kejujuran, saling percaya, adalah nilai-nilai yang dapat aku ambil dari The Horse and His Boy.

Kalian bisa melihat umur tokoh-tokoh The Horse and His Boydi sini.

Oh, aku melupakan sesuatu. Latar waktu yang digunakan di The Horse and His Boy adalah waktu di mana Peter, Raja Tertinggi dan adik-adiknya memerintah di Narnia. Aku sangat menyukai novel ini karena Raja dan Ratu Narnia diselipkan di dalam cerita. Karakter mereka digambarkan sebagai pemimpin yang baik dan bijaksana. Mereka menjadi Raja dan Ratu yang disenangi oleh rakyat-rakyatnya. Itulah sebabnya mengapa waktu mereka memerintah disebut Golden Age atau Masa Kejayaan.

Penjelasan gelar mereka ada di bawah ini. Aku akan menulisnya dengan bahasa Inggris.

And Peter became a tall and deep-chested man and a great warrior, and he was called King Peter the Magnificent. And Susan grew into a tall and gracious woman with black hair that feel almost to her feet and the kings of the countries beyond the sea began to send ambassadors asking for her hand in marriage. And she was called Susan the Gentle. Edmund was a graver and quiter than Peter, and great in council and judgement. He was called King Edmund the Just. But as for Lucy, she was always gay and golden-haired, and all princes in those parts desired her to be their Queen, and her own people called her Queen Lucy the Valiant. (The Lion, The Witch, and The Wardrobe).

Setiap cerita pasti memiliki akhir. Walau The Horse and His Boy digambarkan dengan banyak rintangan dan para tokohnya terlibat peperangan, Lewis menulis akhir cerita yang bahagia. Para tokoh menjalani kehidupan mereka masing-masing dengan hati yang senang karena telah menemukan rumah mereka. Mereka mendapatkan apa yang mereka perjuangkan dan menikmatinya.

Sekian dulu pembahasanku tentang The Horse and His Boy. Aku akan membahas Prince Caspian di lain kesempatan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kalian. Sampai jumpa di Catatan Sarah berikutnya.

Au revoir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel The Chronicles of Narnia: The Last Battle

Selamat datang di Catatan Sarah! Semoga kalian diberi kesehatan dan keselamatan selama pandemi ini. Sesuai dengan Catatan Sarah sebelumnya, aku akan membahas seri terakhir The Chronicles of Narnia: The Last Battle . Karena The Last Battle adalah seri penutup, seri ini adalah seri yang memiliki konflik yang seru dan akhir yang tak kalah menarik. Langsung saja masuk ke pembahasannya. Judul: The Last Battle Penulis: C.S. Lewis Genre: Fantasi, keluarga, petualangan Penerbit: HarperCollins Tebal halaman: 172 Tahun terbit: 1956 Bahasa: Inggris Sinopsis: Selama hari-hari terakhir di Narnia, negeri yang menghadapi rintangan yang sulit – bukan penyusup tanpa musuh. Kebohongan dan pengkhianatan telah mengambil alih, dan hanya seorang raja dan sekelompok pengikut kecil yang royal yang bisa mencegah kehancuran, sebuah akhir yang indah dari The Chronicles of Narnia . “ If we find ourselves with a desire that nothing in this world can satisfy, the most probable explanation is that we were m...

Review Novel The Chronicles of Narnia: The Magician's Nephew

Selamat datang di Catatan Sarah! Bagaimana kabar kalian? Aku harap kalian tetap sehat selama pandemi COVID-19 yang sedang terjadi ini dan semoga kita diberi keselamatan. Hari ini, aku akan membahas novel The Chronicles of Narnia . Ya, siapa yang tidak kenal dengan judul yang satu ini. Jika kalian adalah pecinta film fantasi, kalian pasti sudah tidak asing dengan Narnia. Film pertama (The Lion, The Witch, and The Wardrobe) dan film kedua (Prince Caspian) diproduksi oleh studio Walt Disney dan Walden Media, dibawah sutradara Andrew Adamson. Untuk film ketiga (The Voyage of the Dawn Treader) diproduksi oleh 20th Century Fox, dibawah sutradara Michael Apted.  The Chronicles of Narnia ditulis oleh C.S. Lewis pada tahun 1950-1956. The Chronicles of Narnia ditulis dalam 7 buku, dengan urutan: The Magician’s Nephew , The Lion, The Witch, and The Wardrobe , The Horse and His Boy , Prince Caspian , The Voyage of the Dawn Treader , The Silver Chair , dan The Last Battle . Untuk penjelasan l...

Review Novel The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and The Wardrobe

Selamat datang di Catatan Sarah! Bagaimana kabar kalian? Aku harap kalian sehat dan diberi keselamatan selama pandemi ini. Hari ini, aku akan kembali membahas novel The Chronicles of Narnia . Novel seri kedua: The Lion, The Witch, and The Wardrobe adalah salah satu serial The Chronicles of Narnia yang sudah difilmkan oleh Walt Disney dan Walden Media, dibawah sutradara Andrew Adamson.  Film yang dibuat tahun 2005 ini bisa dibilang sangat menarik. Bukan hanya karena aktor dan aktrisnya yang bermain dengan sangat baik, mahluk-mahluk Narnia yang ditampilkan pun terlihat sangat nyata. Terlebih dengan adanya latar tempat yang menambah nilai rating untuk film ini. Oke, aku lanjutkan ke pembahasan novelnya. Judul: The Lion, The Witch, and The Wardrobe Penulis: C.S. Lewis Genre: Fantasi, keluarga, petualangan Penerbit: HarperCollins Tebal halaman: 171 Tahun terbit: 1950 Bahasa: Inggris Sinopsis: Empat petualang (Peter, Susan, Edmund, Lucy Pevensie) masuk ke dalam lemari dan tiba ...